otakmuda

Tinjauan Kritis Terhadap Koperasi Perikanan Indonesia

Selasa, 23 April 2013
Kondisi Koperasi Perikanan di Indonesia pada saat ini sangat memprihatinkan. Koperasi kurang berjalan lagi dikarenakan anggotanya yang meninggalkannya, kalau saja anggota-anggota masih setia untuk menopang hidup Koperasi, maka Koperasi tersebut dapat berjalan sedia kala. Melakukan simpan pinjam dan lain-lain merupakan kegiatan pada Koperasi. Kenapa Koperasi tidak bisa berjalan lagi, itu dikarenakan banyak anggota yang meminjam dari pada menyimpan. Sehingga Koperasi tambah kewalahan dalam mengatur keuangan. Koperasi tidak bisa melakukan perputaran modal dikarenakan uang Koperasi dipinjam dan yang menyimpan uang sangat minim.

Kemudian banyaknya pengurus dari Koperasi yang berbuat curang. Mereka lebih mengutamakan keuntungan pribadi dari pada melayani anggota Koperasi dalam hal ini nelayan. Masih banyak pengurus Koperasi yang mengambil keuntungan dari dana bantuan pemerintah yang seharusnya disalurkan dan dipinjamkan kepada anggota. Anggota Koperasi yang dalam hal ini nelayan hanya dijadikan objek agar pemerintah mau memberikan bantuan.

Kurangnya kesadaran anggota Koperasi untuk berpartisipasi terhadap Koperasi. Partisipasi dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan melakukan transaksi di Koperasi seperti meminjam, menyimpan dan transaksi lain dalam usahanya. Banyak anggota yang belum sadar akan pentingnya keberadaan Koperasi Perikanan. Pada dasarnya kemajuan suatu Koperasi tergantung dari anggota Koperasi itu sendiri, bukan dari pengurusnya ataupun pemerintah sebagai stackholder pengambil keputusan.

Kepercayaan publik. Dampak yang lebih luas dari suatu kepercayaan dapat kita lhat pada perkembangan Koperasi Perikanan pada saat ini. Berita di media dalam bentuk apapun banyak yang menceritakan buruknya kondisi Koperasi Perikanan. Matinya Koperasi dan korupnya pengurus yang berkecimpung di Koperasi. Tidak bisa disalahkan jika masyarakat hanya bisa terdiam ketika diajak bicara tentang Koperasi, krisis kepercayaan semakin memperburuk kesehatan sebuah unit ekonomi rakyat yang berjudul Koperasi Perikanan.

Masih banyaknya Koperasi Perikanan yang pendiriannya bukan atas kemauan aspirasi masyarakat (bottom up), tapi atas dasar dorongan dan perintah dari pemerintah (top down) yang menganjurkan masyarakat untuk berkoperasi. Sehingga keberadaan Koperasi Perikanan kurang diminati dan kurang dibutuhkan. Berbeda halnya jika beridirinya Koperasi Perikanan atas dasar aspirasi masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya Koperasi akan lebih tinggi dan pastinya akan aktif berparisipasi untuk membangun Koperasi sebagai usaha bersama atas dasar asas kekeluargaan.

Terbatasnya struktur permodalan bagi Koperasi Perikanan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kemajuan Koperasi Perikanan. Masih banyaknya Koperasi Perikanan yang tinggal nama saja dikarenakan tidak mendapat bantuan dana untuk memperkuat struktur permodalan Koperasi yang bisa diputar dengan meminjamkannya kepada anggota ataupun untuk unit usahanya.
Profesionalisme. Tidak banyaknya individu yang mengelola Koperasi dengan alasan ekonomi mengakibatkan Koperasi tidak mempunyai pilihan, tidak selektif dalam menjaring anggota yang dijadikan tulang punggung roda perkoperasian. Keterbasan Sumber Daya Manusia yang berkualitas mengharuskan Koperasi hanya memanfaatkan sumberdaya yang ada.

Tidak adanya pola pengkaderan terhadap anggota berupa pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada anggota tentang system perkoperasian membuat banyak anggota yang belum paham dengan konsep Koperasi. Hal yang demikian juga membuat kepengurusan yang itu-itu saja tiap tahunnya, karena anggota tidak mampu menggantikan pengurus sebelumnya dengan ketidakpahaman mereka.

Koperasi Perikanan tidak mampu bersaing dengan tauke atau agen dalam hal pemasaran maupun pelayanan. Sehingga membuat kepercayaan anggota terhadap tauke dan agen lebih tinggi dari pada Koperasi. Koperasi yang tidak mampu melakukan pemasaran akan kalah saing tentunya dengan tauke. Sehingga anggota yang sudah terjerat dengan tauke tidak mampu berpartisipasi terhadap Koperasi.

Pemerintah yang terlalu memanjakan Koperasi Perikanan, ini juga menjadi alasan kuat mengapa Koperasi Perikanan tidak maju-maju. Koperasi banyak dibantu pemerintah lewat dana segar tanpa ada pengawasan terhadap bantaun tersebut. Sifat bantuannya pun tidak wajib dikembalikan yang berupa dana hibah. Tentu saja ini menjadi bantuan yang tidak mendidik, Koperasi menjadi manja dan tidak mandiri hanya menunggu bantuan selanjutnya dari pemerintah. Selain merugikan pemerintah bantuan seperti ini pula akan menjadikan

Koperasi tidak bisa bersaing karena terus menerus menjadi benalu Negara. Seharusnya pemerintah mengucurkan bantuan dengan system pengawasan yang baik, walaupun dananya bentunya hibah yang tidak perlu dikembalikan. Dengan demikian akan membantu Koperasi menjadi lebih professional, mandiri, dan mampu bersaing.

Untuk menghadapi tantangan di masa depan, Koperasi Perikanan harus mampu mengoptimalkan daya dukung yang dimilikinya. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia anggotanya, meningkatkan asset Koperasi, pengunaan teknologi, serta mempertahankan daya dukung ekologis untuk keberlanjutan usaha Koperasi.

Jon Budi Prayogo
Mahasiswa Sosial Ekonomi Perikanan 2010 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau

Sudah diterbitkan di Koran Metro Riau yang terbit pada hari Jum'at, 3 Mei 2013

Kemana Kekayaan Laut Kita?

Rabu, 13 Juni 2012
Indonesia merupakan negara maritim yang terdiri dari banyak pulau-pulau dengan luas perairan lautnya yang mencapai 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai mencapai 81.000 km.. Potensi ini sangat menguntungkan dalam bidang perikanan terutama perikanan tangkap. Meningkatnya jumlah penduduk dunia dan kebutuhan akan bahan pangan dan gizi yang lebih baik membuat permintaan pasar akan ikan terus bertambah dari tahun ke tahun. Kondisi yang demikian tentunya menjadikan sektor perikanan penting untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal agar masyarakat Indonesia hidup dalam kemakmuran. Tapi saat ini kenyataannya belum demikian, masih banyak kita jumpai masyarakat nelayan yang hidup di garis kemiskinan. Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi kita semua dan perlu pemecahan masalah yang serius khususnya pemerintah yang dalam hal ini pembuat kebijakan.

Agar pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dapat secara optimal, maka perlu diperhatikan dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Aspek teknis mencangkup peralatan dan teknologi pemanfaatan sumberdaya ikan, seperti armada penangkapan, alat tangkap, alat pendeteksi ikan dan sarana lainnya. Sedangkan dari aspek ekonomi mencangkup modal yang dibutuhkan dalam usaha pemanfaatan sumberdaya perikanan, khususnya perikanan tangkap. Sedangkan nelayan tradisional di Indonesia masih mengaplikasikan teknologi dengan sederhana, skala usahanya yang kecil dan jangkauan operasi penangkapan yang masih terbatas disekitar pantai sehingga dalam hal pemanfaatan sumberdaya perikanan belum optimal. Berbeda dengan nelayan modern, tapi jumlahnya masih sedikit dibandingkan dengan nelayan tradisional.

Sifat dari laut yang open acces yaitu terbuka untuk umum memiliki potensi yang sangat besar bagi munculnya konflik antara masyarakat nelayan tradisional dengan nelayan luar dalam interaksi pemanfaatan sumberdaya perikanan. Nelayan luar dalam hal ini adalah nelayan-nelayan modern yang berasal dari kota maupun dari luar negeri (asing). Apalagi dengan melihat kekayaan laut Indonesia yang sangat potensial membuat nelayan-nelayan asing tertarik untuk menangkap ikan diperairan Indonesia. Wilayah yang sering terjadi konflik pencurian ikan oleh nelayan asing biasanya di wilayah-wilayah perbatasan, seperti perbatasan laut Indonesia dengan Malaysia, Laut Arafuru, Laut Cina Selatan. Trik mereka dalam mencuri ikan di Indonesia adalah dengan memalsukan bendera ataupun dengan bendera ganda hingga memalsukan dokumen.

Maraknya pencurian ikan oleh nelayan asing di wilayah perairan Indonesia tentunya sangat merugikan negara. Berkurangnya ikan membuat hasil tangkapan nelayan kita berkurang, produksi perikanan pun menjadi menurun. Secara tidak langsung kekayaan laut yang kita miliki belum kita nikmati sepenuhnya. Tapi wajar saja mereka (nelayan asing) seenaknya menangkap ikan di Indonesia, teknologi penangkapan mereka yang sudah modern didukung dengan armada yang canggih sehingga dapat memasuki wilayah laut Indonesia dengan mudah. Terbatasnya armada kapal modern di Indonesia yang dimiliki nelayan serta terbatasnya juga armada patroli yang dimiliki Kementrian Kelautan dan Perikanan dalam hal pengawasan merupakan salah satu masalah yang harus diselesaikan. Diharapkan ke depannya permalahan pencurian ikan oleh nelayan asing dapat ditekan, sehingga nelayan kita bisa dengan optimal menangkap ikan dan produksi ikan pun diharapkan bertambah untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dan gizi dari ikan. Kepada pemerintah kami berharap melalui kebijakan-kebijakannya demi mewujudkan Indonesia menjadi negara produksi ikan dunia.

Jon Budi Prayogo
Mahasiswa Sosial Ekonomi Perikanan 2010 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau

Sudah diterbitkan di Koran Haluan Riau Edisi Jum'at, 15 Juni 2012

Tentang Kami

Jumat, 14 Mei 2010
otakmuda.blogspot.com berdiri pada tahun 2010 dengan nama otakmuda. Tujuan didirikannya blog ini adalah sebagai sarana media informasi berbasis digital dengan media internet.

Blog ini lahir atas dasar keinginan manusia untuk berkarya dan menyampaikan isi otaknya kepada dunia melalui tulisan-tulisan yang diharapkan bermanfaat positif. Seperti kata pepatah, untuk mengenal dunia maka kita harus membaca dan untuk dikenal dunia kita harus menulis.


Pimpinan Umum : Jon Budi Prayogo

Redaksi otakmuda.blogspot.com menerima berbagai tulisan baik opini, gagasan dan tulisan menarik lainnya. kirim ke alamat redaksi di otakmuda@gmail.com

.